Sulsel

Besok, PT Vale Indonesia Simulasi RTD Bendungan di Malili

ONLINELUWURAYA.COM, LUTIM — Setelah melakukan berbagai persiapan, PT Vale Indonesia Tbk (Vale) berencana menggelar Simulasi implementasi Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Seri Sungai Larona di Malili, besok (13/12/2018). Perangkat Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang terlibat adalah Koramil, Kepolisian, Dinas Nakertrans, Dinas Perhubungan, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas ESDM, Dinas Kehutanan, Dinas Tata Ruang, Dinas Kesehatan, dan Palang Merah Indonesia. Sedangkan tim penilai simulasi berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWS-PJ).

Sebelumnya telah dilakukan simulasi RTD secara table-top yang melibatkan pihak-pihak terkait di atas. Berlanjut hari ini, Selasa 12 Desember 2018, telah dilakukan latihan pra-simulasi dan briefing yang melibatkan tim PT Vale seperti FES, tim operasi Utilities, tim Balantang Port, Tim SAR Terpadu/SAR Malili, SKPD/Instansi Pemda Luwu Timur terkait, serta TNI dan Polri.

Simulasi RTD akan dipusatkan di Gedung Pertemuan Jl. A. Panguriseng, Lapangan Basket Andi Nyiwi, Polsek Malili, dan Lapangan Voli Dusun Patande mulai pagi sampai siang hari. Dalam penyelenggaraan kegiatan ini masyarakat akan diinformasikan dan diatur agar simulasi berjalan lancar dan lingkungan tetap kondusif. Kegiatan ini dilaksanakan melalui Unit Pengelola Bendungan (UPB) yang merupakan kerjasama PT Vale dengan perangkat Pemerintah Luwu Timur, terutama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kegiatan akan melibatkan masyarakat tiga dusun di Desa Wewangriu yaitu Dusun Patande, Dusun Salabu, Dusun Paorebbae dan dua dusun di Kelurahan Malili yaitu Dusun Malili dan Dusun Puncak.

Kegiatan ini bertujuan memonitor, memberi panduan serta mengevaluasi kesiapan PT Vale sebagai pemilik bendungan seri Sungai Larona, pemerintah dan warga dalam mengantisipasi situasi darurat yang dapat menyebabkan luapan air. Skenario simulasi berupa evakuasi warga dari lokasi terdampak, peningkatan status darurat dari “Siaga” ke “Awas”, serta teknis pengakhiran kondisi darurat.

Simulasi RTD merupakan bagian dari ketentuan yang diatur dalam Dokumen Panduan RTD Bendungan Seri Sungai Larona yang telah disetujui dan ditandatangani Vale, BBWS-PJ dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur pada Juli 2017. Serta tindak lanjut pasca studi dan konsultasi penerapan RTD yang diatur sesuai UU Nomor 24/2007 (UU Penanggulangan Bencana), PP Nomor 37/2010 (PP Bendungan) dan beberapa Permen terkait penanggulangan bencana dengan pihak-pihak terkait.

PT Vale memiliki tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yakni Larona (1978), Balambano (1999) dan Karebbe (2011) dengan total tenaga listrik dihasilkan sebesar 365 megawatt di aliran Sungai Larona untuk mendukung operasi Perusahaan. PT Vale juga telah mengantongi Izin Operasi berdasarkan rekomendasi Komisi Keamanan Bendungan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 72/PRT/1997 tentang Keamanan Bendungan, serta dilengkapi sejumlah dokumen perizinan. Sebagai antisipasi terjadinya keadaan darurat, Vale telah melakukan studi dan konsultasi penerapan RTD. PT Vale juga melakukan inspeksi rutin terhadap ketiga bendungannya sesuai standar yang diatur oleh regulasi.

“Bendungan-bendungan PT Vale saat ini dalam kondisi baik dan aman, dan selalu dipantau kondisinya oleh Komisi Bendungan. Namun simulasi implementasi RTD ini perlu dilakukan untuk menumbuhkan pemahaman dan kesiapsiagaan PT Vale, Pemerintah Daerah dan masyarakat. Ini merupakan salah satu tanggung jawab kami dalam mengimplementasi sistem peringatan bencana serta tindakan evakuasi apabila terjadi kondisi darurat. Tujuannya juga untuk membangun koordinasi antara Pemda, BPBD, Vale dan pihak terkait,” ungkap Gunawardana Vinyaman, Director of Communications & External Affairs PT Vale.

PT Vale juga telah mengantisipasi kondisi darurat banjir dengan memasang sistem peringatan banjir yang disebut Flood Warning System (FWS). Sistem peringatan banjir ini akan memberikan peringatan dalam bentuk sirene apabila level ketinggian air sungai dianggap melebihi batas normal atau berpotensi banjir. (*)

Comments

Berikan Komentar Anda

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top